JAKARTA __ mamatnews.com — Pekerjaan berbasis platform digital bukan sekadar pilihan, melainkan pelarian utama bagi mereka yang gagal menembus lapangan kerja formal. Demikian temuan survei Segara Research Institute yang dirilis Jumat, mencakup 506 pekerja di lima kota besar pada Agustus–September 2026.
Terkhusus pengemudi ojek dan taksi daring, 73,8 persen bergabung karena tidak mendapat pekerjaan tetap. Secara keseluruhan, 40,3 persen responden memilih sektor ini karena alasan yang sama, bahkan 57,3 persen tak pernah sekalipun bekerja di instansi atau perusahaan formal. Sebagian dari mereka — terutama pengemudi ojol — juga pernah terkena PHK, yaitu 22,1 persen.
Fleksibilitas waktu menjadi daya tarik terbesar: 88,1 persen menyebutnya keunggulan utama, bahkan mencapai 95 persen di kalangan pengemudi. Sebanyak 81,6 persen menjadikan ini sumber penghasilan utama, 32,4 persen menjalankan lebih dari satu pekerjaan sekaligus, dan 23,3 persen pengemudi berusia 45 tahun ke atas — kelompok yang paling sulit kembali ke kerja formal.
Ekonom Segara YB Kadarusman mengingatkan: kebijakan perlindungan sosial bagi pekerja gig tak boleh menutup akses mereka terhadap mata pencaharian. “Kalau aturannya terlalu ketat hingga menyusutkan kesempatan kerja, kerugiannya justru menimpa mereka yang paling membutuhkan,” ujarnya. Platform, kata dia, telah menjadi pintu harapan bagi jutaan warga, sehingga pengaturannya harus menyeimbangkan perlindungan dan kelangsungan lapangan kerja.
[ Uswatun ]
( Dok. Foto : ANTARA )




