JAKARTA _ mamatnews.com — Nur Kharisma, atau yang akrab dikenal dengan nama Aris, resmi terpilih sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Jayabaya periode 2026–2027 pada 2 September 2026. Terpilihnya Aris menjadi momentum baru bagi dinamika organisasi kemahasiswaan di Universitas Jayabaya, sekaligus membawa ekspektasi besar dari berbagai organisasi mahasiswa (ormawa) dan unit kegiatan mahasiswa (UKM).
Ucapan selamat tentu layak diberikan kepada siapa pun yang memperoleh mandat dalam sebuah kontestasi demokrasi mahasiswa. Namun, kemenangan dalam pemilihan bukanlah akhir dari pertarungan politik kampus. Justru setelah terpilih, tanggung jawab yang jauh lebih besar dimulai: membuktikan bahwa mandat tersebut benar-benar dapat digunakan untuk kepentingan seluruh mahasiswa.
Aris juga dikenal sebagai salah satu kader yang berada dalam lingkungan pembinaan Farid Sudrajat. Nama tersebut tentu bukan sesuatu yang asing dalam dinamika organisasi mahasiswa Jayabaya. Karena itu, publik mahasiswa patut melihat sejauh mana Aris mampu membawa identitas kepemimpinannya sendiri dan tidak sekadar berdiri sebagai representasi dari garis kepemimpinan atau kaderisasi sebelumnya.
Harapannya sederhana: semoga kepemimpinan Aris tidak dibangun melalui praktik-praktik yang selama ini kerap menjadi kekhawatiran dalam kontestasi politik mahasiswa, seperti dugaan politik uang (money politics), janji-janji manis yang sulit dipertanggungjawabkan, ataupun kampanye hitam (black campaign). Hal tersebut bukan tuduhan terhadap Aris, melainkan harapan agar kepemimpinan periode 2026–2027 mampu menunjukkan standar demokrasi mahasiswa yang lebih sehat dibandingkan dinamika yang pernah terjadi pada periode sebelumnya.
Terlebih, Aris bukan sosok yang sama sekali asing bagi sejumlah aktivis mahasiswa. Salah satu pihak yang mengenalnya bahkan pernah berhadapan langsung dengan Aris dalam kontestasi pemilihan SEMA dan BPM FHUJ.
“Saya mengenal baik beliau. Kami pernah menjadi lawan tanding dalam pemilihan SEMA dan BPM FHUJ 2025-2026. Saat itu beliau menjadi lawan saya dan saya yang memenangkan kontestasi tersebut,” ujar Ahmad Ruslan Syah.
Meski pernah berada dalam posisi berseberangan secara politik, hubungan personal dan komunikasi tetap dapat berjalan dengan baik. Perbedaan dalam kontestasi organisasi semestinya tidak menjadi alasan untuk membangun permusuhan, melainkan menjadi bagian dari proses pendewasaan politik mahasiswa.
Atas terpilihnya Aris, Ahmad Ruslan Syah selaku Kabid Humas dan Media GMNI Cabang Jaktim turut menyampaikan ucapan selamat dan berharap kepemimpinan baru tersebut mampu menjawab kebutuhan seluruh elemen mahasiswa.
“Selamat kepada Nur Kharisma atas terpilihnya sebagai Presiden Mahasiswa Universitas Jayabaya periode 2026–2027. Semoga amanah dan mampu memenuhi apa yang menjadi harapan setiap ormawa dan UKM di Universitas Jayabaya,” ujarnya.
Harapan tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Aris. Sebab, Presiden Mahasiswa bukan hanya milik kelompok yang memenangkan kontestasi, bukan pula hanya representasi dari tim sukses atau jaringan politik yang mengantarkannya menuju kursi kepemimpinan.
Presiden Mahasiswa adalah representasi mahasiswa secara keseluruhan.
Karena itu, periode 2026–2027 akan menjadi ruang pembuktian bagi Aris: apakah ia mampu merangkul kelompok yang mendukung maupun yang pernah menjadi lawan politiknya, memenuhi aspirasi ormawa dan UKM, serta membangun pemerintahan mahasiswa yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, sejarah kepemimpinan tidak ditentukan oleh bagaimana seseorang memenangkan pemilihan, tetapi oleh apa yang ia lakukan setelah kemenangan itu diperoleh.
[ Suber berita Dodi Rusmana ]




