PONDOK CABE __ mamatnews.com — Satu kisah inspiratif lahir dari perpaduan ketekunan, semangat belajar, dan tekad yang tak tergoyahkan. Sahri, jurnalis investigasi yang dikenal pula sebagai pemerhati sosial, resmi menuntaskan sidang skripsi dan meraih gelar Sarjana Strata Satu (S1) di Universitas Terbuka (UT), Sabtu (26/9/2026). Sidang yang digelar di kampus Pondok Cabe ini menjadi puncak perjuangan panjangnya menyeimbangkan tugas berat di lapangan dan kewajiban akademik.
Menjadi jurnalis investigasi bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan pengabdian yang kerap menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Namun Sahri tak membiarkan kesibukan menjadi alasan untuk berhenti melangkah. Di sela-sela liputan, di tengah tekanan tugas, dan di saat waktu istirahat yang terbatas, ia tetap menyempatkan diri membaca, meneliti, dan menyusun karya tulis ilmiah—membuktikan bahwa kemauan sungguh-sungguh tak dapat dihalangi oleh apa pun.
Usai sidang yang berlangsung khidmat dan penuh haru, Sahri menyampaikan rasa syukur yang meluap-luap. “Alhamdulillah, tiada kata yang lebih indah selain puji syukur. Terima kasih kepada keluarga, rekan-rekan media, dan semua yang mendoakan. Ini bukti nyata bahwa belajar tak mengenal usia, tak mengenal kesibukan, dan tak mengenal hambatan apa pun. Selama ada kemauan, jalan pasti terbuka,” ucapnya dengan suara yang bergetar tanda haru.
Universitas Terbuka, sebagai Perguruan Tinggi Negeri ke-45 di Indonesia, memang dirancang untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya—terutama bagi mereka yang bekerja dan berbakti. Sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel menjadi jembatan bagi Sahri untuk terus mengabdi sekaligus mengembangkan wawasan. Keberhasilannya kini menjadi bukti: disiplin dan keteguhan mampu mengubah keterbatasan waktu menjadi prestasi yang membanggakan.
Pimpinan Umum Media POLRI91.COM, Sastra Suganda, CPLA, menyambut gembira pencapaian ini dan menyampaikan apresiasi yang tulus. “Sahri adalah teladan nyata. Ia jurnalis yang handal, berintegritas, dan tak pernah lelah menimba ilmu. Gelar yang diraihnya bukan sekadar simbol, melainkan pengukuhan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas diri demi karya yang lebih bermanfaat. Semoga ini semakin mengokohkan langkahnya dalam mengabdi kepada kebenaran dan kepentingan masyarakat,” ujar Sastra.
Kisah keberhasilan Sahri kini diharapkan menjadi cahaya penuntun bagi rekan-rekan sejawat, khususnya jurnalis muda. Bahwa mengabdi di bidang jurnalistik tidak berarti menutup pintu kemajuan akademik. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan: pengalaman lapangan memperkaya pemikiran, dan ilmu yang dipelajari mengasah ketajaman analisis. Sahri telah membuktikannya—siapa pun yang tak kenal menyerah, pasti akan sampai di garis keberhasilan.
[ Annisaa ]
Apakah Anda ingin saya buatkan versi lain lagi dengan penekanan yang berbeda?




