BerandaBerita UtamaNasi Tiwul Gunungkidul: Warisan Kuliner dan Simbol Ketahanan Pangan yang Tetap Lestari

Nasi Tiwul Gunungkidul: Warisan Kuliner dan Simbol Ketahanan Pangan yang Tetap Lestari

Date:

Trending

Patok Merah Putih Sebagai Tanda Dimulakan Pembangunan Asrama Yatim Yayasan PADI

M4M4T.COM, Kabupaten Bekasi -Hari Ahad, 30 Juni 2024 akan...

Gelaran PON XXI, Putra Nababan: Pelaku Parekraf Jadi Lokomotif Geliat Ekonomi

M4M4T.COM, Jakarta - Geliat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON)...

Perbakin Kota Bandarlampung Helat Kejuaraan Menembak Nasional

M4M4T.COM, Bandarlampung - Pengurus Kota (Pengkot) Perbakin Kota Bandarlampung...

Penelusuran Tim Media AsMEN Ungkap Sejarah Istana Kepresidenan Yogyakarta

M4M4T.COM | Yogyakarta - Sejumlah perwakilan media massa yang...

Tiga Tahun Berturut-turut, Kemendagri Perkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Gerakan 10 Juta Bendera

M4M4T.COM, Pekanbaru – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat...
spot_imgspot_img

GUNUNGKIDUL _ mamatnews.com – Nasi tiwul menjadi salah satu kuliner legendaris khas Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, yang hingga kini masih bertahan di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern. Berbahan dasar singkong yang diolah menjadi gaplek, tiwul bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga menjadi simbol ketahanan pangan dan warisan budaya masyarakat Gunungkidul sejak zaman dahulu.

Pada masa lalu, masyarakat Gunungkidul menjadikan tiwul sebagai makanan pokok karena kondisi wilayah yang didominasi tanah kapur membuat budidaya padi tidak semudah di daerah lain. Singkong dipilih sebagai sumber pangan utama karena lebih mudah ditanam dan mampu tumbuh di lahan yang kering. Dari bahan sederhana tersebut lahirlah nasi tiwul yang memiliki tekstur khas dan cita rasa yang unik.

Proses pembuatannya masih mempertahankan cara tradisional. Singkong yang telah dipanen dikupas, dipotong, lalu dijemur hingga menjadi gaplek. Setelah itu, gaplek digiling menjadi tepung kasar, dibasahi hingga membentuk butiran kecil, kemudian dikukus sampai matang. Nasi tiwul biasanya disajikan bersama parutan kelapa, gula merah, maupun aneka lauk tradisional seperti ikan asin, ayam kampung, tempe, tahu, sambal, dan sayur lodeh.

Kini, nasi tiwul telah bertransformasi menjadi salah satu ikon wisata kuliner Gunungkidul. Banyak wisatawan yang sengaja mencarinya sebagai pengalaman menikmati cita rasa khas daerah. Berbagai inovasi juga terus berkembang, seperti hadirnya tiwul ayu yang dikemas lebih modern sebagai camilan dan oleh-oleh tanpa menghilangkan bahan dasar singkong sebagai ciri khasnya.

Selain memiliki nilai sejarah dan budaya, nasi tiwul juga dikenal sebagai alternatif sumber karbohidrat yang berasal dari singkong dengan kandungan serat yang relatif lebih tinggi dibandingkan nasi putih. Keberadaannya menjadi bukti bahwa kearifan lokal mampu melahirkan pangan tradisional yang bernilai gizi, memiliki cita rasa khas, serta tetap lestari sebagai bagian dari kekayaan kuliner Indonesia.

Sumber: Kuliner khas Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

[ Ngatiyah ]

Langganan

- - Tidak Pernah Ketinggalan Berita Terbaru

- Dapat Mengkases Berita Ekslusif

- Gratis

Untuk Kamu

spot_img

Tinggalkan Balasan