BerandaBerita UtamaMacet Hampir 24 Jam, Puluhan Sopir Truk Blokir Pelabuhan Ketapang Tuntut Keadilan...

Macet Hampir 24 Jam, Puluhan Sopir Truk Blokir Pelabuhan Ketapang Tuntut Keadilan Antrean

Date:

Trending

Patok Merah Putih Sebagai Tanda Dimulakan Pembangunan Asrama Yatim Yayasan PADI

M4M4T.COM, Kabupaten Bekasi -Hari Ahad, 30 Juni 2024 akan...

Gelaran PON XXI, Putra Nababan: Pelaku Parekraf Jadi Lokomotif Geliat Ekonomi

M4M4T.COM, Jakarta - Geliat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON)...

Perbakin Kota Bandarlampung Helat Kejuaraan Menembak Nasional

M4M4T.COM, Bandarlampung - Pengurus Kota (Pengkot) Perbakin Kota Bandarlampung...

Penelusuran Tim Media AsMEN Ungkap Sejarah Istana Kepresidenan Yogyakarta

M4M4T.COM | Yogyakarta - Sejumlah perwakilan media massa yang...

Tiga Tahun Berturut-turut, Kemendagri Perkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Gerakan 10 Juta Bendera

M4M4T.COM, Pekanbaru – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat...
spot_imgspot_img

JAKARTA _ mamatnews.com — Kemacetan parah di Jalur Situbondo–Banyuwangi memuncak pada Kamis (3/9/2026) sore. Setelah terjebak antrean hampir seharian, puluhan sopir truk muatan besar melancarkan aksi protes dan memblokir akses masuk Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Ekor kemacetan mencapai 15 kilometer, menjadikannya kondisi terburuk dalam rentetan gangguan lalu lintas yang terjadi beberapa pekan terakhir.

Sejak pukul 16.00 WIB, para sopir meninggalkan kendaraan mereka yang mengular di jalan raya dan menduduki area depan pelabuhan. Mukhlisin, salah satu perwakilan sopir, menuding manajemen pelabuhan bersikap tidak adil dengan memprioritaskan bus penumpang, mobil pribadi, dan truk kecil dibanding truk tronton dan kendaraan bermuatan besar. “Kami sudah lelah menunggu hampir 24 jam, kelelahan ekstrem, kurang tidur, dan biaya operasional membengkak,” ungkapnya.

Aksi ini berlangsung secara spontan atas dasar solidaritas sesama pengemudi tanpa arahan asosiasi mana pun. Para sopir menuntut PT ASDP Indonesia Ferry menyusun pernyataan dan kesepakatan tertulis yang menjamin pemerataan antrean secara proporsional. Mereka mendesak agar sistem pengaturan penyeberangan segera dirombak agar lebih adil. Jika tidak, rantai pasokan barang antar-pulau dikhawatirkan semakin terganggu dan merugikan perekonomian wilayah.
[ Annisaa ]

( Dok. Foto : Liputan6.com )

Langganan

- - Tidak Pernah Ketinggalan Berita Terbaru

- Dapat Mengkases Berita Ekslusif

- Gratis

Untuk Kamu

spot_img

Tinggalkan Balasan