BerandaBisnisSusah Payah Mengupas Bawang, Selamet: Rp50 Ribu Sudah Sangat Bersyukur

Susah Payah Mengupas Bawang, Selamet: Rp50 Ribu Sudah Sangat Bersyukur

Date:

Trending

Patok Merah Putih Sebagai Tanda Dimulakan Pembangunan Asrama Yatim Yayasan PADI

M4M4T.COM, Kabupaten Bekasi -Hari Ahad, 30 Juni 2024 akan...

Gelaran PON XXI, Putra Nababan: Pelaku Parekraf Jadi Lokomotif Geliat Ekonomi

M4M4T.COM, Jakarta - Geliat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON)...

Perbakin Kota Bandarlampung Helat Kejuaraan Menembak Nasional

M4M4T.COM, Bandarlampung - Pengurus Kota (Pengkot) Perbakin Kota Bandarlampung...

Penelusuran Tim Media AsMEN Ungkap Sejarah Istana Kepresidenan Yogyakarta

M4M4T.COM | Yogyakarta - Sejumlah perwakilan media massa yang...

Tiga Tahun Berturut-turut, Kemendagri Perkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Gerakan 10 Juta Bendera

M4M4T.COM, Pekanbaru – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat...
spot_imgspot_img

JAKARTA _ mamatnews.com — Aroma menyengat bawang putih langsung tercium sesaat memasuki kawasan pengupasan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Di tengah tumpukan bawang, puluhan ibu duduk tekun mengupas kulitnya berjam-jam demi menafkahi hidup. Di antara mereka terdapat Selamet (64), perempuan asal Pekalongan yang setiap hari mengandalkan pekerjaan berat itu untuk bertahan hidup.

Pekerjaan yang tampak sederhana itu ternyata menguras tenaga dan raga. Berjam-jam menunduk memisahkan kulit bawang membuat pinggang dan tangan terasa nyeri luar biasa. Sering kali jari pun teriris pisau hingga Selamet tak kuasa menahan tangis. “Suka menangis, sakit pinggang, tangan sakit,” ungkap Selamet kepada mamatnews.com, Minggu (16/8/2026).

Namun upah yang diterima jauh dari sebanding dengan lelahnya. Ia dibayar Rp15.000 per karung bawang. Dalam sehari, paling banyak mengerjakan empat hingga lima karung, sehingga penghasilannya sekitar Rp60.000. Meski begitu, Selamet tetap bersyukur. “Dapat Rp50.000, alhamdulillah, mesti disyukuri aja,” ucapnya tulus.

Dari penghasilan itu, ia harus menutupi kebutuhan makan dan sewa kontrakan Rp500.000 per bulan, serta sesekali membantu cucunya. Selamet mulai bekerja pukul 08.00 WIB dan sering berlanjut hingga pukul 20.00 WIB. Saat tubuh tak sanggup lagi, ia berbaring sejenak, lalu kembali mengambil pisau. Keinginan berhenti pernah terlintas, namun ia sadar usia membuat peluang kerja semakin sempit. “Kerja apa? Saya udah tua,” ucapnya. Selama masih ada bawang, ia akan terus mengupas demi sesuap nasi.
[ Annisaa ]
( Dok. Foto : kompas.com )

Langganan

- - Tidak Pernah Ketinggalan Berita Terbaru

- Dapat Mengkases Berita Ekslusif

- Gratis

Untuk Kamu

spot_img

Tinggalkan Balasan