BerandaWilayahDari Penjual Gorengan Menjadi Kepala Desa — Ayatulloh Buktikan Cibiran Bukan Penghalang...

Dari Penjual Gorengan Menjadi Kepala Desa — Ayatulloh Buktikan Cibiran Bukan Penghalang Mengabdi

Date:

Trending

Patok Merah Putih Sebagai Tanda Dimulakan Pembangunan Asrama Yatim Yayasan PADI

M4M4T.COM, Kabupaten Bekasi -Hari Ahad, 30 Juni 2024 akan...

Gelaran PON XXI, Putra Nababan: Pelaku Parekraf Jadi Lokomotif Geliat Ekonomi

M4M4T.COM, Jakarta - Geliat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON)...

Perbakin Kota Bandarlampung Helat Kejuaraan Menembak Nasional

M4M4T.COM, Bandarlampung - Pengurus Kota (Pengkot) Perbakin Kota Bandarlampung...

Penelusuran Tim Media AsMEN Ungkap Sejarah Istana Kepresidenan Yogyakarta

M4M4T.COM | Yogyakarta - Sejumlah perwakilan media massa yang...

Tiga Tahun Berturut-turut, Kemendagri Perkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa melalui Gerakan 10 Juta Bendera

M4M4T.COM, Pekanbaru – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Direktorat...
spot_imgspot_img

BEKASI __ mamatnews.com — Kisah inspiratif datang dari Desa Pahlawan Setia, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi. Ayatulloh (41), yang selama hampir satu dekade dikenal sebagai penjual gorengan dan kopi, kini resmi memimpin desa kelahirannya untuk periode 2026–2034. Keberhasilannya meraih kepercayaan warga bukan lahir dari kekayaan, melainkan dari kehadiran yang tulus mendengarkan aspirasi di balik meja dagang sederhananya.

Setiap sore hingga dini hari, Ayatulloh melayani pembeli sambil menyimak keluh kesah tetangga. Lama-kelamaan, warga yang merasa didengar justru mendorongnya untuk maju dalam Pemilihan Kepala Desa. “Selama hampir 10 tahun dagang, banyak yang bilang: sudah nyalon aja jadi kepala desa. Saya diusung langsung oleh warga,” ujarnya.

Jalan menuju kemenangan tak mulus. Ia dicemooh — dianggap tak punya modal, pekerjaannya dipandang sebelah mata, bahkan ada yang menyuruhnya menjual rumah demi biaya kampanye. “Dibilang tukang gorengan mau jadi lurah, bisa apa? Kalau kalah tidur di mana?” kenangnya. Namun cibiran itu justru menjadi bahan bakar semangatnya.

Perjalanan hidupnya pun tak mudah. Pernah menjadi buruh pabrik yang berhenti tanpa pesangon, lalu menjadi kenek bangunan, sebelum akhirnya bertahan berjualan. Sejak 2018 ia juga mengabdi sebagai staf perencanaan pembangunan desa — tetap berjualan di sela waktu agar tetap dekat dengan warga.

Diusung warga, didukung keluarga, dan berbekal tekad kuat, Ayatulloh akhirnya terpilih. Pesan ayahnya menjadi pegangan utama: “Kalau sudah jadi kepala desa, jangan coba-coba makan uang anggaran desa.” Ia memegang teguh bahwa anggaran milik rakyat wajib dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat.

Kini ia rela meninggalkan usahanya demi fokus mengabdi. Namun gorengan tak ditinggalkan begitu saja — ia berencana mengembangkannya melalui program BUMDes sebagai penggerak ekonomi warga. Prioritas pembangunan pun sudah terbayang: drainase, jalan, penerangan, penanganan sampah, serta lahan pemakaman umum yang selama ini menjadi keluhan warga perumahan.

“Saya akan turun ke setiap wilayah dulu, menentukan apa yang paling mendesak dibenahi. Yang penting saya menjaga amanah dan membangun desa ini bersama-sama,” tegasnya.
[ Annisaa ]

( Dok. Foto : kompas.com )

Langganan

- - Tidak Pernah Ketinggalan Berita Terbaru

- Dapat Mengkases Berita Ekslusif

- Gratis

Untuk Kamu

spot_img

Tinggalkan Balasan