JAKARTA __ mamatnews.com — Fenomena nyala api berwarna biru atau blue fire yang tampak di kawasan Kawah Manuk, Gunung Papandayan, pada 23–24 September 2026 memikat perhatian luas, mengingat fenomena ini selama ini paling dikenal di Kawah Ijen, Jawa Timur. Namun keindahan tersebut menyimpan pesan keselamatan yang tak boleh diabaikan.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, blue fire bukanlah lava berwarna biru. Nyala khas itu muncul ketika gas kaya belerang keluar dari rekahan gunung pada suhu tinggi, lalu terbakar saat bersentuhan dengan oksigen. Kemunculannya menandakan adanya pelepasan gas panas serta aktivitas fumarola dan sistem hidrotermal — bukan berarti gunung akan meletus seketika.
“Peningkatan aktivitas gunung api tidak bisa dinilai hanya dari munculnya blue fire. Harus dilihat secara menyeluruh melalui data kegempaan, perubahan bentuk permukaan, suhu, hingga jenis dan jumlah gas yang keluar,” tegas Daryono.
Di balik pesonanya, bahaya mengintai. Gas yang terlepas seperti belerang, hidrogen sulfida, dan karbon dioksida dapat beracun atau mengurangi kadar oksigen di udara. Daryono mengimbau masyarakat tidak mendekat kawah maupun lubang pengeluaran gas sekadar untuk mengambil foto atau video.
“Jangan memasuki area yang telah dibatasi, jangan berlama-lama di cekungan tempat gas bisa menumpuk, dan segera menjauh jika mencium bau belerang menyengat, merasa pusing, sesak napas, atau mata serta tenggorokan terasa perih,” pesannya.
Inti peringatannya sederhana: blue fire memang indah, tetapi keselamatan jauh lebih berharga daripada sekadar gambar. Patuhi zona aman dan arahan resmi dari PVMBG serta pengelola kawasan.
[ Annisaa ]
( Dok. Foto : iNews.id )




