BOGOTA _ mamatnews.com – Hanya berselang tiga hari setelah dilantik, Presiden baru Kolombia Abelardo De La Espriella langsung menghadapi ujian berat berupa gempa berkekuatan magnitudo 7,4 yang mengguncang wilayah barat negara itu pada Senin (10/8/2026). Bencana ini menjadi krisis besar pertama yang harus ditangani pemerintahannya, di saat masyarakat masih mengingat dampak dua gempa dahsyat yang melanda negara tetangga Venezuela bulan lalu.
Sekitar lima setengah jam pasca gempa, De La Espriella menyampaikan pidato nasional dan menetapkan status darurat nasional. “Kami kerahkan seluruh kemampuan negara untuk menyelamatkan nyawa, menolong korban, dan menyalurkan bantuan secepatnya ke daerah terdampak,” tegasnya.
Jumlah korban terus bertambah. Jika pada awalnya presiden menyebut 111 orang tewas, data terbaru dari Asosiasi Kota-Kota Ibu Kota Kolombia mencatat sedikitnya 132 orang meninggal dunia dan 570 lainnya mengalami luka-luka. Pemerintah menjadikan penyelamatan warga yang masih terjebak di bawah reruntuhan sebagai prioritas utama.
Presiden segera turun langsung ke lokasi kejadian, dimulai dari Quibdo, ibu kota Provinsi Choco, di mana ia menjanjikan bantuan biaya sewa bagi warga yang rumahnya hancur. Ia kemudian melanjutkan kunjungan ke Cali, kota terbesar di wilayah barat yang juga mengalami kerusakan parah.
Sementara itu, Badan Geologi Kolombia mencatat hingga Senin malam telah terjadi 21 kali gempa susulan, dengan kekuatan antara magnitudo 2,8 hingga 4,8. Pihak berwenang mengimbau masyarakat tetap waspada karena potensi guncangan susulan masih sangat mungkin terjadi.
[ Uswatun ]
( Dok. Foto : Liputan6.com )




